Langit pagi itu masih kelabu ketika kabar duka datang mengetuk pintu rumah kecil mereka. Suara tangis pecah, mengguncang dinding kayu yang selama ini menjadi saksi kebahagiaan sederhana keluarga itu. Suaminya, yang selama ini menjadi sandaran hidup, telah pergi untuk selamanya. Usianya baru 33 tahun.
Ibu itu terdiam. Air matanya jatuh tanpa suara. Di hadapannya, enam pasang mata kecil menatap bingung. Anak sulungnya baru berusia 12 tahun, masih terlalu muda untuk memahami kehilangan sebesar itu. Sementara si bungsu, bayi berusia 9 bulan, tertidur dalam gendongannya, tak tahu bahwa dunia mereka baru saja berubah.
Hari itu, hidupnya terbelah menjadi dua: sebelum dan sesudah kepergian suaminya.
Sebagai seorang guru dengan gaji kecil, ia tahu betul bahwa jalan ke depan tidak akan mudah. Namun, ia juga tahu satu hal yang pasti—ia tidak boleh menyerah. Enam anaknya adalah alasan ia harus tetap berdiri.
