Dari Lie Ek Tong Hingga Resesi Ekonomi
Bagi sebagian orang mungkin tidak pernah tahu sejarah dan dibalik gedung Balaikota Sukabumi dan pemerintahannya. Banyak keunikan yang terjadi pada awal mula terbentuknya kota yang kini dikenal dengan sebutan Kota Mochi tersebut. Tim Radar Sukabumi mencoba menelusuri sejarah tersebut dengan mengunjungi salah satu sejarawan yang kini bernaung di Yayasan Dapuran Kipahare.
Gedung Sekretariat Daerah Kota Sukabumi atau biasa disebut balaikota menjadi saksi bisu berjuta kisah di masa lalu, sedikitnya ada lima kisah menarik dibalik gedung peninggalan jaman penjajahan Belanda ini.
Ketua Yayasan Dapuran Kipahare Sukabumi, Irman Firmansyah menceritakan segelintir kisah dibalik megahnya gedung yang saat ini menjadi pusat pemerintah Kota Sukabumi.
Mulai dari, hampir dua puluh tahun Sukabumi tak punya balaikota, menyewa bangunan tua milik pengusaha Tionghoa hingga akhirnya bisa membeli bangunan dan rencana membangun gedung baru hingga selesainya pembangunan dan pembukaan gedung Balaikota Sukabumi.
Pada masa awal perubahan status Sukabumi menjadi gemeente pada 1 April 1914, pemerintah kota praja belum memiliki walikota dan kantor sendiri yang representatif.
Ketiadaan anggaran untuk sekretariat kota dan layanan teknis dari pemerintah pusat, membuat penyelenggara pemerintahan lokal harus mencari tumpangan bangunan yang ada di Kota Sukabumi.
Pada saat itu Dewan Kota menumpang di salah satu ruang di Afdelingsbank yang lokasinya sekarang di sekitar kantor Bank Mandiri dan melakukan rapat pertamanya pada 29 April 1914.
Penggunaan ruangan ini berlangsung selama sekira empat tahun hingga akhirnya dewan kota berkantor di sebuah gedung bekas sekolah di sebelah timur alun-alun (Mapolres Sukabumi Kota sekarang), sambil menunggu bangunan sendiri.
Ketiadaan balai kota ini hampir berakibat dicabutnya status Gemeente Soekaboemi pada tahun 1924, walaupun usulan tersebut pada akhirnya dibatalkan setelah adanya penentangan.
Hikmah adanya usulan pencabutan status tersebut adalah kemudian diseleksi calon Walikota Sukabumi pertama pada Juli 1925, dan terpilih Burgemeester pertama G.F Rambonnet.
Semenjak itu, pemerintahan lokal ini mulai memikirkan pentingnya Dewan Kota memiliki kantor sendiri. Lebih lengkapnya baca Sempat akan dibatalkan, Gemeente Soekaboemi berawal dari ketidakpuasan orang Eropa.
Oktober 1925, pemerintah menyewa sebuah bangunan besar di Tjikoleweg No. 23 milik seorang pengusaha Tionghoa bernama Lie Ek Tong untuk kegiatan operasional staf gemeente sementara.
Ek Tong adalah pemilik ruko di Grote Postweg (sekarang Jl. Jenderal A. Yani) yang di kemudian hari menjadi Toko Bogor, Toko Aloha, Toko Meubel Bandung, dan tiga kavling di sebelahnya.
Karena cukup dikenal di wilayah ini, namanya sempat diabadikan sebagai nama gang, yaitu Gang Ek Tong (sekarang Jalan PGRI). Bangunan tersebut berkonstruksi bilik dengan plesteran (gepleisterd billiken gebouw), yang kemudian digunakan oleh Kotapraja Sukabumi sebagai Balai Kota (door de Gemeente Soekaboemi Gebruikt als Gemeentehuis).
Gemeentehuis ini digunakan ketika ada pertemuan dewan kota, bahkan kadang digunakan untuk tempat peribadatan Jemaat Gereja Reformasi, mengingat jemaat gereja kesulitan melakukan ibadah dan harus menumpang di sekolah taman kanak-kanak di Selabatu.
Rambonnet akhirnya memberi solusi dengan menjadikan kantor sementara gemeente tersebut sebagai gereja.
Sementara itu, selama status sewa, burgemeester yang merangkap sekretaris kota tidak berkantor di gemeentehuis, tetapi di salah satu rumah di jalan yang sama, yaitu Cikoleweg No. 15.
Pemerintah kota praja sebenarnya membutuhkan bangunan milik Lie Ek Tong tersebut karena lokasinya yang strategis sehingga bisa meninjau keadaan kota dari kejauhan. Namun, karena Lie Ek Tong tidak menjualnya, kemudian dewan kota terus menyewanya selama tujuh tahun.
Sekitar 1932 terjadi resesi ekonomi yang mengakibatkan Lie Ek Tong mengalami kebangkrutan. Karena kebutuhan yang mendesak akhirnya ia harus rela melelang bangunan tersebut dan menjualnya kepada pemerintah senilai 12.600 Gulden (NLG).