Translater

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Kotak Penelusuran

Sabtu, 01 April 2017

Kalung Ciwa

Disebuah kerajaan kutai hiduplah seorang Pangeran yang sangat rendah hati dan halus tutur katanya. Pangeran Aji namanya. Pangeran adalah anak dari Raja Mulawarman yang tengah memerintah. Usia beliau sudah sangat uzur, akan tetapi tahta tak kan bisa diberikan apabila Kalung Ciwa belum ditemukan.

Hingga suatu hari Raja Mulawarman memanggil putranya dan mengutus Pangeran Aji untuk mencari Kalung Ciwa yang hilang saat pertempuran dengan Pasukan raja Tiongkok di Muara Kaman.

Patuh pada titah ayahanda, Pangeran Ajipun berangkat menunaikan titah sang Raja. Di tengah perjalanannya menuju Muara Kaman,  Pangeran Aji sangat dikejutkan dengan kehadiran seekor hewan berbadan lembu, bersayap burung, berkepala naga dan berbelalai gajah yang selalu mengikutinya kemanapun dia melangkah. Berpura-pura tidak mengetahui kehadiran hewan tersebut, Pangeran Aji mengatur siasat untuk menjebaknya.

“Ampun Pangeran jangan sakiti hamba, hamba hanya bertugas mengawal perjalanan pangeran karena titah sang Raja”, Ucap Lembuswana.
“Siapakah dirimu wahai mahluk aneh”, ucap Pangeran Aji
“Saya adalah Lembuswana, yang dipelihara Paduka raja sejak pangeran masih kecil”, sahutnya
“Naiklah dipunggungku dan hamba akan mengantar pangeran ke tempat tujuan”, Perintah lembuswana pada Pangeran Aji.

Pangeran Aji segera mengikuti perintah Lembuswana diapun kemudia duduk dipunggung sang lembu dan mereka terbang menuju Muara Kaman.

Sesampainya di Desa Muara Kaman, Pangeran Aji sangat dikejutkan dengan nasib rakyatnya yang jauh dibawah garis kemiskinan. Desa yang tandus, dan hasil tanamannya sangat minim, Rakyat Muara Kaman memenuhi kebutuhan pangan dengan berburu Hewan Dihutan, sehingga ekosistem tidak terjaga.

“Lembuswana, aku akan tinggal lama didesa ini, kamu adalah hewan sakti, maukah kamu membantuku memajukan Desa ini agar menjadi desa yang subur dan makmur kehidupan rakyatnya”, Tanya Pangeran Aji. 

“Siap Pangeran, hamba akan memenuhi titah pangeran”, Ucap Lembuswana.
Pangeran Aji pun mengajak Warga Desa Muara Kaman untuk merubah kehidupan desa mereka dengan bergotong royong membuat sebuah danau kecil, agar kecukupan air untuk hasil pertanian didesa mereka terpenuhi.

Penggalian danau buatan untuk tempat penampungan airpun dimulai, Lembuswana ditugaskan mencari bebatuan besar di sungai untuk digunakan sebagai material danau, selama tiga hari tiga malam mereka bahu membahu membangun sebuah danau di tempat  tersebut. Saat seorang warga desa menggali tanah, tiba-tiba cangkulnya membentur benda yang sangat keras yang terbuat dari logam dan berbentuk kalung. Satu persatu warga desa berusaha mencabut kalung tersebut tapi tak satupun berhasil mengeluarkannya dari tanah. Pangeran Aji segera mendatangi mereka dan mencoba menarik Kalung tersebut.

Alangkah terkejutnya mereka, Pangeran Aji dengan mudahnya dapat menarik kalung tersebut dan tiba-tiba, ratusan lipan merah keluar dari dalam tanah, disusul pancuran air bening dan bersih. Mereka sangat gembira dan bahagia akan peristiwa yang baru saja dialami. Karena mata air telah ditemukan. Danau tersebut akhirnya diberi nama Danau Lipan.

Takjub dengan peristiwa yang baru saja mereka alami, Lembuswana pun menjelaskan bahwa Kalung tersebut adalah kalung Ciwa yang tengah Pangeran Aji cari. 

“Itulah mengapa kalung itu hanya Pangeran yang bisa mengambilnya dari dalam tanah”, Ucap Lembuswana menjelaskan

Pangeran Aji kemudian memohon pada Lembuswana untuk mencarikan bibit pohon yang bisa diambil hasil buahnya dihutan yang berada tak jauh dari Desa Muara Kaman, untuk ditanam agar kelak hasilnya dapat dijual dan dijadikan bahan makanan untuk rakyat sekitarnya.  Setelah tugas mereka selesai merekapun kembali ke Istana Tenggarong.

Mengetahui Kepulangan Putranya yang berhasil menemukan Kalung Ciwa yang sudah lama hilang, Raja Mulawarman sangat Bahagia, diapun memerintah para petinggi kerajaan untuk mengatur upacara penobatan putranya sebagai Raja Tenggarong yang baru.

Pangeran Aji Pun Dinobatkan sebagai raja Tenggarong dengan mengenakan Kalung Ciwa sebagai Simbol Penobatan Raja Baru. Pangeran Aji pun  kini bergelar Sultan Muhammad Aji Sulaiman.♥♥♥ (Nirahm4)


Kalung Ciwa adalah peninggalan sejarah kerajaan Kutai yang ditemukan pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Penemuan terjadi pada tahun 1890 oleh seorang penduduk di sekitar Danau Lipan, Muara Kaman. Kalung Ciwa sendiri hingga saat ini masih digunakan sebagai perhiasan kerajaan dan dipakai oleh sultan saat ada pesta penobatan sultan baru.

Link : Sapos Edisi April 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar